allsnsrank
회원가입

Reshuffle Kabinet Prabowo Dinilai Belum Strategis: Tak Ada Kursi Partai yang Dihilangkan

Tribunnews
구독자 1,570만명
조회수 2,302회 · 좋아요 1 · 참여율 0.04% · 2026-10-04 📊 채널 정보 보기 ▶ 유튜브

지금 보고 있는 영상

Reshuffle Kabinet Prabowo Dinilai Belum Strategis: Tak Ada Kursi Partai yang Dihilangkan
조회수 2,302
영상 설명 · 눌러서 펼치기
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada awal Oktober 2026 dinilai belum menunjukkan perubahan strategis dan substantif dalam komposisi pemerintahan.

Pengamat Politik Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menilai reshuffle yang disebut sebagai penataan strategis seharusnya diarahkan untuk mempercepat pencapaian visi dan misi Presiden.

Menurut Ray, perubahan kabinet yang substantif semestinya tidak hanya menyasar satu atau dua menteri, tetapi dapat menyentuh sebagian besar komposisi kabinet apabila pemerintah memang ingin melakukan akselerasi.

"Kalau reshuffle strategis substantif itu ya memang reshuffle yang dibuat dalam rangka untuk mewujudkan visi-misi presiden yang lebih cepat, hemat waktu, dan juga akseleratif," kata Ray dalam diskusi PWJ bertajuk "Membedah Reshuffle Kabinet: Kepentingan Rakyat atau Elit?" di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (3/10/2026).

Dia menilai komposisi kabinet saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kabinet ideal yang dibayangkan Prabowo.

"Kalau ditarik ke belakang, ini sebetulnya wajah kabinet yang dibayangkan ideal oleh Pak Prabowo atau tidak, gitu? Jawaban saya tidak," ujarnya.

Menurut Ray, salah satu persoalan dalam penataan kabinet adalah keterbatasan ruang Presiden dalam memilih menteri dari kalangan partai politik.

Dia menilai sejumlah posisi tertentu memang lebih terbuka untuk diisi figur nonpartai, seperti Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, dan Menteri Kesehatan.

Sementara itu, posisi lain dalam kabinet menurutnya banyak diisi berdasarkan konfigurasi politik pemerintahan.

Dia mencontohkan posisi menteri yang ditempati pimpinan partai politik.

"Misalnya, apakah Pak Bahlil itu tipe menteri yang diinginkan oleh Pak Prabowo? Saya tak yakin. Mungkin, tapi tidak bisa nolak karena ketua partai," ujarnya.

Ray juga menyebut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai bagian dari konfigurasi politik yang menurutnya membatasi ruang Presiden dalam melakukan perubahan kabinet.

Menurutnya, masuknya berbagai partai ke dalam pemerintahan membuat penataan kabinet tidak semata-mata ditentukan oleh pertimbangan teknokratis.

Ray kemudian menyoroti reshuffle terbaru yang menurutnya belum mengubah representasi partai politik dalam kabinet.

Dia mencontohkan pergantian Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang digantikan oleh Sekjen Partai Golkar Muhammad Sarmuji.

"Kalau kita lihat reshuffle yang terakhir ini, lagi-lagi tidak ada satu pun kursi partai yang dihilangkan, diganti oleh Pak Prabowo. Pak Agus Gumiwang yang diganti orang partai, tapi kan diganti tetap dari orang partai yang sama," ujarnya.

Ray menilai kondisi tersebut menunjukkan reshuffle belum menyentuh konfigurasi politik yang lebih mendasar di dalam kabinet.

"Kalau mau reshuffle strategis atau substantif, bisa-bisa 80 persen orang-orang ini diganti oleh Pak Prabowo. Dan itu enggak akan dilakukan," katanya.

Ray juga menyinggung posisi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid yang menurutnya tetap bertahan dalam reshuffle terbaru.

Dia mengaitkan hal tersebut dengan pemberitaan mengenai keterkaitan Nusron dengan perkara yang sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sembari menekankan bahwa status hukum yang jelas menjadi persoalan tersendiri.

Menurut Ray, keputusan mempertahankan figur-figur tertentu tidak terlepas dari pendekatan politik Prabowo.

"Pak Prabowo ini dikurung oleh dirinya sendiri, dia ikat sendiri dirinya. Diikat oleh apa? Diikat oleh apa istilahnya itu, politik itu harmoni. Beliau ini adalah orang yang kelihatan paling takut kalau ada orang yang berbelok meninggalkan dia," ujar Ray.

Ray kemudian menyebut konsep harmoni politik yang diusung Prabowo dapat menjadi faktor yang membatasi ruang perubahan dalam kabinet.

"Beliau takut ditinggalkan," tandas Ray.

Diketahui, selama dua hari, Presiden Prabowo merombak kabinetnya. Beberapa nama dirombak antara lain Sugiono dari Menlu menjadi Menko PMK, Dudung Abdurachman dari Kepala KSP menjadi Menko Polkam, Arrmanatha Nasir dari Wamenlu naik sebagai Menlu, Sarmuji menjadi nama baru di jabatan Menperin, Listyo Sigit dari Kapolri menjadi Kepala KSP, Dedy Prasetyo dari Wakapolri menjadi Kepala Badan Reforma Agraria Nasional, Karyoto dari Kabaharkam Polri menjadi Wamenimipas, Syahganda Nanggolan yang kini menjadi Kepala Bakom RI.

Tak berhenti sampai di situ, Prabowo melantik sejumlah nama untuk posisi Wantimpres. Beberapa nama masyur di antaranya Pratikno yang semula menjabat Menko PMK kini menjadi Ketua Wantimpres, ada juga Qodari yang sebelumnya Kepala Bakom menjadi Sekretaris Wantimpres, lalu Rocky Gerung.

Editor: Lendy Ramadhan
Link Berita: https://www.tribunnews.com/nasional/7891745/ray-rangkuti-nilai-reshuffle-kabinet-prabowo-belum-subtantif-tak-ada-kursi-partai-yang-dihilangkan