Program ETANIGI PLN: Ketika Listrik Menjaga Produktivitas Sawah dan Harapan Petani Sidowarno
지금 보고 있는 영상
Program ETANIGI PLN: Ketika Listrik Menjaga Produktivitas Sawah dan Harapan Petani Sidowarno
조회수 6,807
영상 설명 · 눌러서 펼치기
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah teriknya musim kemarau, Harsi tetap sibuk menanam bibit padi di persawahan Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Perempuan berusia 65 tahun yang bekerja sebagai buruh tanam atau buruh tandur ini mengaku, aktivitas di sawah bukan sekadar pekerjaan sehari-hari.
Sebab, ketersediaan air turut menentukan apakah petani bisa kembali menanam, sekaligus membuka kesempatan kerja bagi buruh tani seperti dirinya.
"Dulu cuma bisa dua kali tanam dalam setahun. Karena kalau masuk musim kemarau, airnya pasti habis, jadi tidak ada air untuk menanam," ungkap Harsi kepada Tribunnews.
Keterbatasan air memang menjadi persoalan bagi petani di Desa Sidowarno, terutama ketika musim kemarau tiba.
Ketua Kelompok Tani Desa Sidowarno, Suryanto, mengatakan wilayah tersebut cukup jauh dari sumber air maupun mata air.
"Kalau kemarau di sini kering, air yang dari Cokro enggak sampai sini," terang Suryanto kepada Tribunnews, Jumat (6/11/2026).
Kondisi tersebut membuat petani harus mencari cara agar sawah tetap mendapatkan pasokan air.
Sebelum tersedia pompa listrik, petani mengandalkan mesin berbahan bakar minyak untuk mengairi persawahan.
Namun, penggunaan pompa BBM bukan tanpa kendala. Selain harus mengeluarkan biaya bahan bakar, petani juga perlu mengangkut mesin ke area persawahan dan mengawasinya selama proses pengairan.
"Kalau dulu pakai pompa BBM, kami harus menggotong mesin ke sawah. Setelah itu, kami juga harus menginap untuk menjaga pompa sekaligus memantau pengairannya," ujar Suryanto.
Untuk mengairi lahan seluas dua hingga tiga hektare dalam satu musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya bahan bakar sekitar Rp1,5 juta.
Perubahan mulai dirasakan setelah hadirnya program Energi Tani Bersinergi atau ETANIGI dari PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Salatiga.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diluncurkan pada Mei 2026 ini menghadirkan fasilitas sumur dan pompa air berbasis listrik untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
Dengan memanfaatkan energi listrik, pengoperasian pompa kini dapat dijadwalkan secara bergiliran oleh para petani.
Mereka cukup menyalakan sakelar sesuai kebutuhan pengairan dan mematikannya kembali setelah air mencukupi.
Perubahan cara pengairan tersebut juga berdampak pada pengeluaran petani.
Jika sebelumnya biaya bahan bakar mencapai sekitar Rp1,5 juta untuk mengairi lahan seluas dua hingga tiga hektare dalam satu musim tanam, kini biaya listriknya berkisar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
"Kalau dulu menggunakan bahan bakar minyak, biayanya bisa mencapai Rp1,5 juta. Sekarang menggunakan listrik, petani paling menghabiskan sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu," jelas Suryanto.
Setelah memanfaatkan pompa listrik, petani di Sidowarno telah melewati satu kali panen.
Kini, di tengah musim kemarau, mereka kembali memulai musim tanam berikutnya dengan memanfaatkan fasilitas pengairan tersebut.
Bagi Harsi, kembali berlangsungnya aktivitas pertanian berarti terbukanya kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan dari kegiatan menanam padi.
Ia mengatakan, sebelumnya keterbatasan air saat kemarau membuat petani hanya bisa melakukan dua kali musim tanam dalam setahun. Kini, ketersediaan air memungkinkan aktivitas penanaman berlangsung hingga tiga kali dalam setahun.
"Ya, dulu kalau musim kemarau tidak ada musim tanam. Jadi, dalam setahun hanya dua kali musim tanam. Sekarang bisa menanam sepanjang tahun, sampai tiga kali musim tanam. Jadi, ada pekerjaan lagi untuk buruh tandur," ungkap Harsi.
Melalui program ETANIGI, PT PLN (Persero) mendorong pemanfaatan energi listrik untuk mendukung keberlangsungan pertanian di Desa Sidowarno.
Bukan hanya membantu petani menekan biaya pengairan, ketersediaan air juga memberi peluang bagi lahan untuk tetap produktif saat musim kemarau.
Di tengah kondisi tersebut, petani bisa kembali menanam, sementara buruh tani seperti Harsi tetap memiliki kesempatan untuk bekerja.
Sebab, di balik setiap bibit padi yang ditanam, ada harapan tentang panen berikutnya dan kehidupan yang terus berlanjut.(*)
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah teriknya musim kemarau, Harsi tetap sibuk menanam bibit padi di persawahan Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Perempuan berusia 65 tahun yang bekerja sebagai buruh tanam atau buruh tandur ini mengaku, aktivitas di sawah bukan sekadar pekerjaan sehari-hari.
Sebab, ketersediaan air turut menentukan apakah petani bisa kembali menanam, sekaligus membuka kesempatan kerja bagi buruh tani seperti dirinya.
"Dulu cuma bisa dua kali tanam dalam setahun. Karena kalau masuk musim kemarau, airnya pasti habis, jadi tidak ada air untuk menanam," ungkap Harsi kepada Tribunnews.
Keterbatasan air memang menjadi persoalan bagi petani di Desa Sidowarno, terutama ketika musim kemarau tiba.
Ketua Kelompok Tani Desa Sidowarno, Suryanto, mengatakan wilayah tersebut cukup jauh dari sumber air maupun mata air.
"Kalau kemarau di sini kering, air yang dari Cokro enggak sampai sini," terang Suryanto kepada Tribunnews, Jumat (6/11/2026).
Kondisi tersebut membuat petani harus mencari cara agar sawah tetap mendapatkan pasokan air.
Sebelum tersedia pompa listrik, petani mengandalkan mesin berbahan bakar minyak untuk mengairi persawahan.
Namun, penggunaan pompa BBM bukan tanpa kendala. Selain harus mengeluarkan biaya bahan bakar, petani juga perlu mengangkut mesin ke area persawahan dan mengawasinya selama proses pengairan.
"Kalau dulu pakai pompa BBM, kami harus menggotong mesin ke sawah. Setelah itu, kami juga harus menginap untuk menjaga pompa sekaligus memantau pengairannya," ujar Suryanto.
Untuk mengairi lahan seluas dua hingga tiga hektare dalam satu musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya bahan bakar sekitar Rp1,5 juta.
Perubahan mulai dirasakan setelah hadirnya program Energi Tani Bersinergi atau ETANIGI dari PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Salatiga.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diluncurkan pada Mei 2026 ini menghadirkan fasilitas sumur dan pompa air berbasis listrik untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
Dengan memanfaatkan energi listrik, pengoperasian pompa kini dapat dijadwalkan secara bergiliran oleh para petani.
Mereka cukup menyalakan sakelar sesuai kebutuhan pengairan dan mematikannya kembali setelah air mencukupi.
Perubahan cara pengairan tersebut juga berdampak pada pengeluaran petani.
Jika sebelumnya biaya bahan bakar mencapai sekitar Rp1,5 juta untuk mengairi lahan seluas dua hingga tiga hektare dalam satu musim tanam, kini biaya listriknya berkisar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
"Kalau dulu menggunakan bahan bakar minyak, biayanya bisa mencapai Rp1,5 juta. Sekarang menggunakan listrik, petani paling menghabiskan sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu," jelas Suryanto.
Setelah memanfaatkan pompa listrik, petani di Sidowarno telah melewati satu kali panen.
Kini, di tengah musim kemarau, mereka kembali memulai musim tanam berikutnya dengan memanfaatkan fasilitas pengairan tersebut.
Bagi Harsi, kembali berlangsungnya aktivitas pertanian berarti terbukanya kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan dari kegiatan menanam padi.
Ia mengatakan, sebelumnya keterbatasan air saat kemarau membuat petani hanya bisa melakukan dua kali musim tanam dalam setahun. Kini, ketersediaan air memungkinkan aktivitas penanaman berlangsung hingga tiga kali dalam setahun.
"Ya, dulu kalau musim kemarau tidak ada musim tanam. Jadi, dalam setahun hanya dua kali musim tanam. Sekarang bisa menanam sepanjang tahun, sampai tiga kali musim tanam. Jadi, ada pekerjaan lagi untuk buruh tandur," ungkap Harsi.
Melalui program ETANIGI, PT PLN (Persero) mendorong pemanfaatan energi listrik untuk mendukung keberlangsungan pertanian di Desa Sidowarno.
Bukan hanya membantu petani menekan biaya pengairan, ketersediaan air juga memberi peluang bagi lahan untuk tetap produktif saat musim kemarau.
Di tengah kondisi tersebut, petani bisa kembali menanam, sementara buruh tani seperti Harsi tetap memiliki kesempatan untuk bekerja.
Sebab, di balik setiap bibit padi yang ditanam, ada harapan tentang panen berikutnya dan kehidupan yang terus berlanjut.(*)
Tribunnews 다른 영상
Ario Bayu dan Nirina Zubir Pastikan FFI Bukan Sekadar Festival dan Penghargaan | Si Paling Seleb
조회수 1,983
Kickboxing Indonesia Menuju Panggung Dunia, KX-1 Series 10 Hadirkan Petarung Tiga Negara
조회수 2,122
Pemerintah Tegaskan Karhutla Tetap Jadi Perhatian Serius di Tengah Gejolak Politik Nasional
조회수 758
Jokowi Keberatan jika Ijazahnya Diuji Ulang Lagi seperti yang Diminta Roy Suryo, Ini Alasannya
조회수 44,185
Momen Bunda Corla Menangis Tersedu-sedu Lihat Jokowi di Persidangan: Aku Rela Diancam-ancam
조회수 11,970
Politikus Demokrat Sindir Jokowi Jongkok saat Sidang Ijazah, Bandingkan Foto Masuk Gorong-gorong
조회수 23,085
Eks Kapolri Listyo Sigit Sadap Prabowo, Ungkapan "Ikan Busuk Dimulai dari Kepala" Kini Disorot
조회수 10,022
🔴LIVE: Viral Ibu Kandung Tega Aniaya Balita di Ketapang, Polisi Lacak Keberadaan Pelaku yang Kabur
조회수 20,790