Profil Dyah "Mbak Dy" Fardisa, Owner Bolosego, Pernah Diusir dari Kampung & Digeruduk Satpol PP
지금 보고 있는 영상
Profil Dyah "Mbak Dy" Fardisa, Owner Bolosego, Pernah Diusir dari Kampung & Digeruduk Satpol PP
조회수 731
영상 설명 · 눌러서 펼치기
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Dyah Laily Fardisa atau yang akrab disapa Mbak Dy menjadi sosok di balik berkembangnya UMKM Bolosego.
Perempuan kelahiran 1991 ini tumbuh dari keluarga guru yang jauh dari dunia bisnis.
Mbak Dy merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada atau UGM dan meraih predikat cumlaude pada 2015.
Sebelum terjun ke dunia usaha, ia sempat bekerja di perusahaan swasta sebagai manajer digital marketing.
Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik yang mengubah perjalanan hidupnya.
Berbekal pengalaman di bidang digital marketing, Mbak Dy mulai mencoba peruntungan sebagai wirausahawan.
Bolosego pun dirintis dengan modal yang sangat terbatas, bahkan hanya bermula dari satu kilogram daging.
Tak memiliki kemampuan memasak, Mbak Dy kemudian mengajak ibu-ibu untuk berkolaborasi dalam proses produksi.
Di masa awal bisnis, ia menyadari bahwa kepercayaan pelanggan menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun Bolosego.
Salah satu cara yang dilakukannya terbilang tidak biasa.
Mbak Dy mengirimkan makanan kepada calon pelanggan terlebih dahulu. Setelah makanan dicoba dan dirasa cocok, pelanggan baru melakukan pembayaran.
Cara tersebut membuatnya sempat mengalami sejumlah kerugian, termasuk ketika produk yang dikirim tidak dibayar.
Namun, berbagai tantangan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan Bolosego.
Salah satu momen yang tidak dilupakan Mbak Dy terjadi ketika satu mobil Satpol PP mendatangi rumahnya.
Saat itu, Bolosego masih melakukan kegiatan produksi di dapur rumah.
Seiring waktu, jumlah produksi semakin meningkat hingga aktivitas tersebut mulai mengganggu lingkungan sekitar. Kondisi itu kemudian dilaporkan warga kepada Satpol PP.
Mbak Dy pun diminta menandatangani surat perjanjian untuk memindahkan lokasi produksi dalam waktu satu bulan.
Persoalannya, saat itu ia mengaku belum memiliki cukup uang untuk menyewa atau membangun tempat produksi baru.
Dengan kondisi modal yang masih terbatas, Mbak Dy akhirnya memindahkan kegiatan produksi ke sebuah pabrik yang hingga kini masih digunakan Bolosego.
Bagi Mbak Dy, perjalanan Bolosego sejak masa pandemi menunjukkan bahwa tantangan dalam bisnis juga bisa menjadi titik balik.
Ia pun tidak hanya melihat perkembangan bisnis dari jumlah karyawan, omzet, maupun jumlah cabang.
Dari yang awalnya hanya memiliki delapan orang dalam tim, kini jumlahnya berkembang menjadi sekitar 180 orang.
Namun, bagi Mbak Dy, salah satu pencapaian yang paling berarti adalah ketika orang-orang yang bekerja bersamanya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.
Mulai dari menyekolahkan anak, berangkat umrah, hingga memiliki harapan baru untuk keluarganya.
Karena itu, ia berusaha menjaga hubungan dengan tim melalui berbagai hal sederhana.
Salah satunya dengan tidak menyebut mereka sebagai 'karyawan'.
Mbak Dy juga terbiasa menyapa anggota tim dengan panggilan 'Mas' atau 'Mbak', bukan sekadar menyebut nama.
Ia juga pernah menyampaikan pandangan bahwa "perempuan yang kuat dan bahagia bisa menguatkan sesamanya."
Bagi Mbak Dy, kalimat tersebut lahir dari pengalaman pribadi.
Ia mengakui dirinya bukan perempuan yang selalu kuat, tetapi pernah mengalami kegagalan dan jatuh dalam perjalanan hidupnya.
Dari pengalaman itu, ia ingin menyampaikan kepada perempuan lain bahwa kegagalan tidak lantas menghilangkan kekuatan seseorang.
Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis sekaligus ibu rumah tangga, Mbak Dy mengaku kini tidak terlalu disibukkan dengan urusan operasional bisnis.
Sejumlah pekerjaan telah didelegasikan kepada tim sehingga ia bisa memiliki lebih banyak waktu untuk anak dan suaminya.
Untuk saat ini, sekitar 70 persen bisnis Bolosego masih mengandalkan penjualan secara online melalui marketplace.
Mbak Dy mengaku tidak terlalu mengejar pembuktian, terutama dalam hal pencapaian duniawi.
Sementara untuk rencana terdekat, ia membocorkan rencana membuka restoran Bolosego di Surabaya.
Menariknya, sekitar 50 persen tenaga kerja di restoran tersebut nantinya akan didatangkan dari Yogyakarta.
Langkah itu dilakukan untuk tetap mempertahankan identitas Bolosego yang telah dibangun sejak awal.
Selain Bolosego, Mbak Dy juga memiliki bisnis lain bernama Risol Legend.
Bisnis tersebut kembali memperlihatkan pola usaha yang dekat dengan pemberdayaan perempuan.
Pasalnya, seluruh tim Risol Legend disebut terdiri dari ibu-ibu.
(Tribun-Video.com)
Program: Local Experience
Editor: Akmal Khoirul Habib
#DyahLailyFardisa #MbakDy #Bolosego #UMKM #PengusahaPerempuan #BisnisKuliner #PemberdayaanPerempuan #RisolLegend #KisahInspiratif #OwnerBolosego
TRIBUN-VIDEO.COM - Dyah Laily Fardisa atau yang akrab disapa Mbak Dy menjadi sosok di balik berkembangnya UMKM Bolosego.
Perempuan kelahiran 1991 ini tumbuh dari keluarga guru yang jauh dari dunia bisnis.
Mbak Dy merupakan lulusan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada atau UGM dan meraih predikat cumlaude pada 2015.
Sebelum terjun ke dunia usaha, ia sempat bekerja di perusahaan swasta sebagai manajer digital marketing.
Namun, pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik yang mengubah perjalanan hidupnya.
Berbekal pengalaman di bidang digital marketing, Mbak Dy mulai mencoba peruntungan sebagai wirausahawan.
Bolosego pun dirintis dengan modal yang sangat terbatas, bahkan hanya bermula dari satu kilogram daging.
Tak memiliki kemampuan memasak, Mbak Dy kemudian mengajak ibu-ibu untuk berkolaborasi dalam proses produksi.
Di masa awal bisnis, ia menyadari bahwa kepercayaan pelanggan menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun Bolosego.
Salah satu cara yang dilakukannya terbilang tidak biasa.
Mbak Dy mengirimkan makanan kepada calon pelanggan terlebih dahulu. Setelah makanan dicoba dan dirasa cocok, pelanggan baru melakukan pembayaran.
Cara tersebut membuatnya sempat mengalami sejumlah kerugian, termasuk ketika produk yang dikirim tidak dibayar.
Namun, berbagai tantangan tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan Bolosego.
Salah satu momen yang tidak dilupakan Mbak Dy terjadi ketika satu mobil Satpol PP mendatangi rumahnya.
Saat itu, Bolosego masih melakukan kegiatan produksi di dapur rumah.
Seiring waktu, jumlah produksi semakin meningkat hingga aktivitas tersebut mulai mengganggu lingkungan sekitar. Kondisi itu kemudian dilaporkan warga kepada Satpol PP.
Mbak Dy pun diminta menandatangani surat perjanjian untuk memindahkan lokasi produksi dalam waktu satu bulan.
Persoalannya, saat itu ia mengaku belum memiliki cukup uang untuk menyewa atau membangun tempat produksi baru.
Dengan kondisi modal yang masih terbatas, Mbak Dy akhirnya memindahkan kegiatan produksi ke sebuah pabrik yang hingga kini masih digunakan Bolosego.
Bagi Mbak Dy, perjalanan Bolosego sejak masa pandemi menunjukkan bahwa tantangan dalam bisnis juga bisa menjadi titik balik.
Ia pun tidak hanya melihat perkembangan bisnis dari jumlah karyawan, omzet, maupun jumlah cabang.
Dari yang awalnya hanya memiliki delapan orang dalam tim, kini jumlahnya berkembang menjadi sekitar 180 orang.
Namun, bagi Mbak Dy, salah satu pencapaian yang paling berarti adalah ketika orang-orang yang bekerja bersamanya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.
Mulai dari menyekolahkan anak, berangkat umrah, hingga memiliki harapan baru untuk keluarganya.
Karena itu, ia berusaha menjaga hubungan dengan tim melalui berbagai hal sederhana.
Salah satunya dengan tidak menyebut mereka sebagai 'karyawan'.
Mbak Dy juga terbiasa menyapa anggota tim dengan panggilan 'Mas' atau 'Mbak', bukan sekadar menyebut nama.
Ia juga pernah menyampaikan pandangan bahwa "perempuan yang kuat dan bahagia bisa menguatkan sesamanya."
Bagi Mbak Dy, kalimat tersebut lahir dari pengalaman pribadi.
Ia mengakui dirinya bukan perempuan yang selalu kuat, tetapi pernah mengalami kegagalan dan jatuh dalam perjalanan hidupnya.
Dari pengalaman itu, ia ingin menyampaikan kepada perempuan lain bahwa kegagalan tidak lantas menghilangkan kekuatan seseorang.
Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis sekaligus ibu rumah tangga, Mbak Dy mengaku kini tidak terlalu disibukkan dengan urusan operasional bisnis.
Sejumlah pekerjaan telah didelegasikan kepada tim sehingga ia bisa memiliki lebih banyak waktu untuk anak dan suaminya.
Untuk saat ini, sekitar 70 persen bisnis Bolosego masih mengandalkan penjualan secara online melalui marketplace.
Mbak Dy mengaku tidak terlalu mengejar pembuktian, terutama dalam hal pencapaian duniawi.
Sementara untuk rencana terdekat, ia membocorkan rencana membuka restoran Bolosego di Surabaya.
Menariknya, sekitar 50 persen tenaga kerja di restoran tersebut nantinya akan didatangkan dari Yogyakarta.
Langkah itu dilakukan untuk tetap mempertahankan identitas Bolosego yang telah dibangun sejak awal.
Selain Bolosego, Mbak Dy juga memiliki bisnis lain bernama Risol Legend.
Bisnis tersebut kembali memperlihatkan pola usaha yang dekat dengan pemberdayaan perempuan.
Pasalnya, seluruh tim Risol Legend disebut terdiri dari ibu-ibu.
(Tribun-Video.com)
Program: Local Experience
Editor: Akmal Khoirul Habib
#DyahLailyFardisa #MbakDy #Bolosego #UMKM #PengusahaPerempuan #BisnisKuliner #PemberdayaanPerempuan #RisolLegend #KisahInspiratif #OwnerBolosego
Tribunnews 다른 영상
Inner Child Terluka dan Trauma Masa Lalu, Apa Bisa Disembuhkan dengan Hipnoterapi?
조회수 44
Diperiksa KPK 8 Jam terkait Suap Audit Muara Enim, Anggota V BPK Bobby Rizaldi Irit Bicara
조회수 86
Dibuka! Sayembara Surat Santri untuk Presiden Prabowo dalam Rangka Hari Santri, Ini Syaratnya
조회수 101
Presiden Prabowo Tegas Instruksikan Tata Kelola Keuangan Haji, Berantas Mafia Sapu Semua Kartel
조회수 592
Terungkap! Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Disebut Selamat Dua Kali dari Serangan AS
조회수 4,181
DPR Bongkar Kejanggalan Barang Hilang, Kalapas Akui Beri Perintah Pindahkan Properti Lapas Cibinong
조회수 4,278
Cemas, Overthinking dan Sulit Tidur, Bisa Diatasi dengan Hipnoterapi?
조회수 23
[FULL] Jokowi Pamer KTA PSI, Pakar: Tahun Politik Maju Lebih Awal, Kader PDIP Berpotensi Migrasi
조회수 754