Ditawari Kerja Restoran di Thailand, S Malah Dibius hingga Disekap Sindikat Love Scamming di Myanmar
지금 보고 있는 영상
Ditawari Kerja Restoran di Thailand, S Malah Dibius hingga Disekap Sindikat Love Scamming di Myanmar
조회수 77
영상 설명 · 눌러서 펼치기
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - S, perempuan 35 tahun asal Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, baru saja kembali dari perjalanan yang nyaris merenggut nyawanya setelah diduga menjadi korban sindikat penipuan daring atau love scamming di kawasan konflik perbatasan Myanmar.
Saat ditemui di shelter Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) di kawasan pertokoan Imperium, Kota Batam, Kamis (6/8/2026), S masih tampak lesu dan menyisakan luka pada bagian mata kirinya.
Sebelum menjadi korban, S pernah bekerja di kawasan industri smelter Morowali, Sulawesi Tengah, hingga menduduki posisi foreman.
Ia kemudian mengundurkan diri dan menerima tawaran pekerjaan dari seorang kenalan bernama Johan untuk bekerja di luar negeri.
Pada 1 April, S mendapat tawaran pekerjaan di sebuah restoran yang disebut berada di Thailand.
Dari Tanjungpinang, ia berangkat melalui Bandara Soekarno-Hatta dan terbang ke Bangkok sebelum dijemput seorang pria bernama Andi atau Xiao He.
Andi disebut merupakan warga Batam yang belakangan diketahui berstatus buron dan diduga bersembunyi di Myanmar.
S awalnya dibawa ke sebuah vila dengan janji akan diantar ke restoran keesokan harinya.
Namun, ia dan rombongan justru diberi air kemasan yang menurut pengakuannya telah dicampur obat penenang hingga kehilangan kesadaran.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam, S tersadar dan mendapati dirinya telah berada di Myanmar, bukan Thailand seperti yang dijanjikan.
Selama sekitar satu setengah bulan pertama, S mengaku bekerja di sebuah restoran tanpa menerima gaji dan hanya diberi makan.
Memasuki bulan kedua, ia kemudian dibawa ke sebuah kantor yang dipenuhi komputer dan diminta menjalankan pekerjaan penipuan dengan modus mengaku sebagai petugas Direktorat Jenderal Pajak.
S menolak pekerjaan tersebut karena mengaku hanya ingin bekerja secara halal.
Penolakan itu, menurut pengakuannya, justru berujung pada kekerasan hingga dirinya mulai disekap.
S mengaku mengalami pemukulan dan penyiksaan berulang kali, termasuk pada bagian kepala, mata, dan telinga.
Ia juga mengaku dicambuk, dilarang tidur, serta tidak diberi makanan dan hanya diperbolehkan minum air putih.
Pada 12 Juli, S bersama seorang rekan sesama korban nekat kembali ke tempat tinggal mereka untuk mengambil pakaian.
Aksi tersebut dianggap sebagai upaya melarikan diri sehingga keduanya kembali mengalami penganiayaan.
S mengaku mengalami retak tulang rusuk dan kerusakan saraf pada kaki kirinya akibat penyiksaan tersebut.
Pada 16 Juli, para pelaku kemudian meminta uang tebusan sebagai syarat pembebasan S dan rekannya.
Masing-masing korban diminta membayar Rp110 juta, ditambah Rp30 juta biaya perjalanan keluar dari Myanmar menuju Bangkok sehingga total dana yang harus disiapkan mencapai sekitar Rp250 juta.
S juga mengaku diancam akan dibunuh dan dikubur hidup-hidup apabila keluarganya tidak memenuhi permintaan tersebut.
Ia bahkan dipaksa membuat video permohonan bantuan dana kepada keluarga yang kemudian beredar di media sosial.
Uang tebusan akhirnya dikumpulkan dengan bantuan kakaknya di Tanjungpinang dan ditransfer melalui mantan suaminya.
Setelah uang dibayarkan, S dan rekannya akhirnya dibebaskan dan dibawa menuju sebuah pos pemeriksaan yang dijaga militer setempat.
Melihat kondisi S yang penuh luka dan memar, seorang perwira militer kemudian membantu membawa keduanya ke rumah sakit militer untuk mendapatkan perawatan selama sekitar satu minggu.
S mengaku biaya perawatan tersebut ditanggung pihak militer setempat.
Setelah kondisinya membaik, S dipulangkan melalui jalur darat menuju Malaysia sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Kini berada di shelter P4MI Batam, S mengaku masih mengalami trauma akibat kejadian yang dialaminya.
"Masih ada sedikit trauma," akunya lirih.
S berharap kisahnya menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja ke luar negeri dengan iming-iming gaji besar, khususnya di wilayah yang rawan praktik online scam.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran pekerjaan dari kenalan maupun saudara tanpa memastikan legalitas dan keamanan pekerjaan tersebut.
"Sayangilah nyawa kalian," pesan S. (*)
Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Batam
Editor: Akmal Khoirul Habib
#LoveScamming #OnlineScam #Myanmar #PekerjaMigran #PMI #Batam #Tanjungpinang #KasusScam #KorbanScam #SaksiKata
TRIBUN-VIDEO.COM - S, perempuan 35 tahun asal Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, baru saja kembali dari perjalanan yang nyaris merenggut nyawanya setelah diduga menjadi korban sindikat penipuan daring atau love scamming di kawasan konflik perbatasan Myanmar.
Saat ditemui di shelter Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) di kawasan pertokoan Imperium, Kota Batam, Kamis (6/8/2026), S masih tampak lesu dan menyisakan luka pada bagian mata kirinya.
Sebelum menjadi korban, S pernah bekerja di kawasan industri smelter Morowali, Sulawesi Tengah, hingga menduduki posisi foreman.
Ia kemudian mengundurkan diri dan menerima tawaran pekerjaan dari seorang kenalan bernama Johan untuk bekerja di luar negeri.
Pada 1 April, S mendapat tawaran pekerjaan di sebuah restoran yang disebut berada di Thailand.
Dari Tanjungpinang, ia berangkat melalui Bandara Soekarno-Hatta dan terbang ke Bangkok sebelum dijemput seorang pria bernama Andi atau Xiao He.
Andi disebut merupakan warga Batam yang belakangan diketahui berstatus buron dan diduga bersembunyi di Myanmar.
S awalnya dibawa ke sebuah vila dengan janji akan diantar ke restoran keesokan harinya.
Namun, ia dan rombongan justru diberi air kemasan yang menurut pengakuannya telah dicampur obat penenang hingga kehilangan kesadaran.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam, S tersadar dan mendapati dirinya telah berada di Myanmar, bukan Thailand seperti yang dijanjikan.
Selama sekitar satu setengah bulan pertama, S mengaku bekerja di sebuah restoran tanpa menerima gaji dan hanya diberi makan.
Memasuki bulan kedua, ia kemudian dibawa ke sebuah kantor yang dipenuhi komputer dan diminta menjalankan pekerjaan penipuan dengan modus mengaku sebagai petugas Direktorat Jenderal Pajak.
S menolak pekerjaan tersebut karena mengaku hanya ingin bekerja secara halal.
Penolakan itu, menurut pengakuannya, justru berujung pada kekerasan hingga dirinya mulai disekap.
S mengaku mengalami pemukulan dan penyiksaan berulang kali, termasuk pada bagian kepala, mata, dan telinga.
Ia juga mengaku dicambuk, dilarang tidur, serta tidak diberi makanan dan hanya diperbolehkan minum air putih.
Pada 12 Juli, S bersama seorang rekan sesama korban nekat kembali ke tempat tinggal mereka untuk mengambil pakaian.
Aksi tersebut dianggap sebagai upaya melarikan diri sehingga keduanya kembali mengalami penganiayaan.
S mengaku mengalami retak tulang rusuk dan kerusakan saraf pada kaki kirinya akibat penyiksaan tersebut.
Pada 16 Juli, para pelaku kemudian meminta uang tebusan sebagai syarat pembebasan S dan rekannya.
Masing-masing korban diminta membayar Rp110 juta, ditambah Rp30 juta biaya perjalanan keluar dari Myanmar menuju Bangkok sehingga total dana yang harus disiapkan mencapai sekitar Rp250 juta.
S juga mengaku diancam akan dibunuh dan dikubur hidup-hidup apabila keluarganya tidak memenuhi permintaan tersebut.
Ia bahkan dipaksa membuat video permohonan bantuan dana kepada keluarga yang kemudian beredar di media sosial.
Uang tebusan akhirnya dikumpulkan dengan bantuan kakaknya di Tanjungpinang dan ditransfer melalui mantan suaminya.
Setelah uang dibayarkan, S dan rekannya akhirnya dibebaskan dan dibawa menuju sebuah pos pemeriksaan yang dijaga militer setempat.
Melihat kondisi S yang penuh luka dan memar, seorang perwira militer kemudian membantu membawa keduanya ke rumah sakit militer untuk mendapatkan perawatan selama sekitar satu minggu.
S mengaku biaya perawatan tersebut ditanggung pihak militer setempat.
Setelah kondisinya membaik, S dipulangkan melalui jalur darat menuju Malaysia sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Kini berada di shelter P4MI Batam, S mengaku masih mengalami trauma akibat kejadian yang dialaminya.
"Masih ada sedikit trauma," akunya lirih.
S berharap kisahnya menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja ke luar negeri dengan iming-iming gaji besar, khususnya di wilayah yang rawan praktik online scam.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran pekerjaan dari kenalan maupun saudara tanpa memastikan legalitas dan keamanan pekerjaan tersebut.
"Sayangilah nyawa kalian," pesan S. (*)
Program: Saksi Kata
Sumber: Tribun Batam
Editor: Akmal Khoirul Habib
#LoveScamming #OnlineScam #Myanmar #PekerjaMigran #PMI #Batam #Tanjungpinang #KasusScam #KorbanScam #SaksiKata
Tribunnews 다른 영상
Benarkan Ombudsman Temukan Dugaan Pungli Akses HP Dibanderol Rp250 Juta di Rutan Pondok Bambu?
조회수 8
Benarkah Semua Orang Bisa Dihipnotis? Ini Penjelasan Psikolog
조회수 11
Pidato Jas Merah 1966, Momen Soekarno Bersikeras Tak Mau Bubarkan PKI Usai Tragedi G30S
조회수 44
Relawan perempuan di Teheran dilatih menggunakan senjata dan menghadapi situasi darurat.
조회수 94
Ombudsman Ungkap Dugaan Pungli Penggunaan Hp Rp250 Juta di Rutan Kelas 1 Pondok Bambu Jaktim
조회수 305
Bandara Iran Nekat Tetap Buka Jalur Internasional meski Ditekan Sanksi Amerika Serikat
조회수 256
🔴LIVE: Basarnas Beri Update Terkini Operasi Sar Evakuasi Korban Kapal Motor Virgo Transport 8
조회수 227
Benarkah Hipnoterapi Bisa Menghapus Memori Buruk? Ini Kata Psikolog
조회수 24